Rabu, 18 Februari 2015

The real best friend

SMP kartika adalah sekolah baruku. dan hari ini adalah hari pertama aku menjadi murid disini, aku duduk dikelas 7C sementara sahabat aku duduk dikelas 7B. Sahabatku itu bernama ulfi, aku kenal dia udah dari SD, dan sejak kelas 1 sampai kelas 6 kami selalu duduk dikelas yang sama. Awalnya aku dan dia hanya berteman biasa saja, namun saat kami duduk dikelas 5 pertemanan kami semakin dekat, hingga saat kami kelas 6, aku mulai tahu kalau ternyata dia adalah sahabatku.
Dan sekarang hubungan persahabatan kami semakin dekat, setiap berangkat ataupun pulang sekolah kami selalu pulang bareng. Dan kalopun ada acara atau dia mau pergi pasti dia selalu minta aku untuk nemenin, begitupun sebaliknya. Kami juga mengikuti ekskul yang sama yaitu basket. Meskipun kami tidak berada pada satu kelas, dan kami juga sudah mempunyai teman-teman baru, namun kami tidak pernah saling sombong atau saling melupakan. Dia selalu inget sama aku begitupun aku yang selalu inget sama dia.

Hari-haripun berlalu, hingga kami naik ke kelas 8. Saat melihat daftar pembagian kelas, aku dan dia sama-sama berharap kalau kami bakalan duduk dikelas yang sama, namun kenyataanya berbeda. Aku duduk dikelas 8E sedangkan dia duduk dikelas 8F. Dikelas 8 ini semua terasa asing, soalnya hanya segelintir anak yang memang sudah aku kenal, sedangkan yang lainya belum pernah aku kenal sebelumnya. Awalnya aku tidak bergaul dengan anak-anak yang sekarang, saat jam istirahat, aku lebih sering menghabiskan waktu bersama sahabatku itu atau dengan teman-teman saat aku duduk dikelas 7. Namun seiring berjalanya waktu, aku mulai akrab dengan teman-teman baruku.
Dwi, adalah anak yang paling dekat denganku dikelas 8 ini. Dia orangnya pendiam, agak pemalu, dan super rajin, pokoknya berbanding terbalik dengan sifatku, namun entah mengapa aku nyaman sama dia. Namun, meskipun aku sekarang dekat dengan dwi, aku masih tetap ingat sama ulfi. Kami masih tetap pulang sekolah bareng. Biasanya kalau ulfi ada kerja kelompok, aku ikut nemenin sampai kerja kelompoknya selesai, sedangkan kalau aku yang ada kerja kelompok, ulfi jarang nemenin, dia lebih memilih untuk pulang duluan, namun itu tak menjadi masalah buat aku.

Aku ini termasuk anak yang malas ngerjain PR dan kalo ulangan aku selalu nyonyek ataupun membuka buku, walaupun adasih beberapa yang aku memang bisa ngerjain sendiri terutama kalau pelajaran matematika. Dan dikelasku ada satu anak namanya Fadilah, dia tuh anaknya rajin banget, pinter, dan dia juga anak salah satu guru yang mengajar disekolahku. Pernah suatu hari saat ulangan IPS, gurunya pergi dan saat itulah anak-anak langsung pada buka buku kecuali Fadilah...

"fad, kamu nggak ikutan buka buku?" tanyaku pada fadilah saat itu
"enggak, aku mau ngerjain sendiri, nggak mau nyontek"
"serius? entar nyesel loh"
"enggak lah ngapain nyesel"
"yaudah kalo gitu, terserah lah"

Sekitar seminggu kemudian, hasil ulangan pun dibagikan. Hampir semua murid mendapatkan nilai bagus. Hampir, karna hanya Fadilah yang nilainya nggak terlalu bagus.

"kamu sih nggak mau buka buku makanya nilainya segitu" komentarku saat itu
namun Fadilah tak berkomentar apapun.
"udah, lain kali nggak usah sok pinter lah, kalo kayak gini kan kamu sendiri yang rugi. anak-anak nilainya pada bagus sementara kamu? dan lain kali nggak usah pelit-pelit lah, kalo emang kamu tau jawabanya, kasih tau kita, biar kita pinter bareng-bareng" kataku sambil tersenyum, namun dia tetap tak berkomentar, akupun pergi meninggalkanya.

Setelah kejadian itu, Fadilah mulai bisa berbaur dengan anak-anak lain. Sikapnya juga sudah tidak seperti dulu, dia sudah mulai bisa bercanda dan nggak kaku seperti sebelumnya.

Pulang sekolah, seperti biasa aku pulang bareng sama ulfi. Saat berjalan melewati koridor, tiba-tiba ulfi bertanya padaku

"id, yang namanya bisma itu mana sih?"
"bisma? ituh yang lagi berdiri dipintu kelasku" kataku sambil menunjuk anak laki-laki yang memang sedang berdiri dipintu kelas sambil memainkan ponselnya.
"oh yang itu.." kata ulfi manggut-manggut
"emang ada apa dengan bisma?"
"enggak cuman pengin tau aja, yaudah yuk balik" kata ulfi lalu merangkul aku dan berlalu dari koridor.

Hari ini adalah hari rabu, dan jadwal dikelasku adalah olahraga, namun pak sugeng (guru olahraga) lagi nggak dateng, sehingga kami dibebaskan untuk 2jam kedepan. Anak-anak pada memilih untuk ngerumpi dikelas, namun aku tak suka ngerumpi dikelas, dan aku lebih memilih untuk main basket. Dan satu-satunya orang yang mau nemenin adalah Dwi. Akhirnya aku dan dwi main basket berdua, walaupun sebenernya dwi tidak terlalu suka basket dan dia juga nggak bisa main basket, namun dia nggak nolak saat aku ajak dia main basket.
Sejak saat itu, aku dan dwi jadi sering main basket bareng terutama saat jam kosong atau class meeting. Kedekatan diantara kami berduapun semakin terjalin. Bahkan aku sering main kerumah dia saat pulang sekolah atau saat ada kerja kelompok.

Dilain waktu...
Saat itu aku lagi nungguin ulfi didepan kelasnya, karna memang kelasku pulang lebih awal karna guru yang mengajar dijam terakhir berhalangan hadir.
Saat ulfi keluar dari kelas, tiba-tiba ada sosok laki-laki yang menghampiri aku dan ulfi. Aku mengenal dia sebagai Okky anak kelas 8B. Okky langsung bersalaman dengan kami, namun tatapan mata okky ke ulfi lain, begitupun sebaliknya. Seperti ada sesuatu diantara keduanya. Kami sempat ngobrol sebentar sebelum akhirnya aku dan ulfi pergi.
Saat berjalan melewati koridor, aku berbisik pada ulfi...

"kamu pacaran sama okky?"
"hah? pacaran? kata siapa?
"udah kamu nggak usah bohong, aku bisa liat dari mata kamu kok"
"lah emang kenapa mataku? nyala?"
"bukan gitu, aku tuh bisa liat kalo kamu punya rasa sama okky, begitupun sebaliknya, udah ngaku aja kamu pacaran sama dia?"
"yampun enggak id, aku sama dia tuh cuman temen"
"temen apa demen?" ledekku, lalu muka ulfi makin lama makin memerah
"waahh sejak kapan jadian?"
"seminggu yang lalu id, pas tanggal 21 april"
"21 april? wah kartini sama kartono dong" kataku lalu tertawa sementara ulfi hanya tersenyum malu

Oyah selain Dwi, ada juga teman sekelasku yang memang dekat denganku, namanya Sufi. Dia ini bisa dibilang adalah teman "gila" ku, soalnya sifat kami hampir sama. Kami sama-sama males, jarang bahkan bisa dibilang nggak pernah ngerjain PR, paling suka kalau ngeledek guru, bahkan nggak jarang kami mendapat ocehan "khusus" dari para guru. Pokonya aku sama sufi itu merupakan perpaduan yang sangat cocok. Jika sudah ketemu, pasti banyak hal gila yang bisa kita ciptain berdua.

"kok okky tumben nggak kesini fi?" kataku pada ulfi saat pulang sekolah
"nggak tau, mungkin banyak tugas kalik" jawab ulfi yang sepertinya sedikit kaget dengan pertanyaanku
akupun tak bertanya lebih lanjut. Namun karna rasa penasaran yang begitu dalam, akhirnya aku mulai membuka pembicaraan saat kami sedang menunggu angkot...
"kamu udah putus sama okky?"
"hah? kok kamu nanya gitu?"
"aku lihat dari sikap kalian berdua, okky udah jarang kekelas kamu, tadi kamu ketemu dia juga sikap kalian cuek nggak kayak biasanya"
ulfi terdiam mendengar pertanyaanku, namun setelah beberapa saat dia akhirnya mau menjawab
"iya id"
"gara-gara apa? kapan?"
"kita udah nggak cocok, byak perbedaan diantara aku sama dia, aku putus udah dari dua hari yang lalu"
"kamu itu baru sebulan loh pacaran sama dia"
"ya mau gimana lagi id, keadaanya begini"
"yaudah, kamu nggak usah sedih, masih banyak kok cowok selain okky"
Ulfi pun tersenyum, lalu kami naik angkot dan pulang.

Setaun sudah berlalu, dan sekarang aku sudah duduk dikelas 9. Lagi-lagi aku dan ulfi tidak berada pada satu ruang kelas yang sama. Aku duduk dikelas 9G sedangkan ulfi dikelas 9F. Harapan kami untuk duduk bareng disatu kelaspun sirna. Namun aku nggak terlalu sedih, karna dikelas 9 ini aku kembali duduk disatu kelas yang sama bersama Dwi yang saat ini sudah aku anggap sebagai sahabatku.
Dikelas 9, aku udah agak jarang menghabiskan waktu dengan ulfi. Selain sama-sama sibuk, tapi ulfi lebih sering pergi bersama teman-temanya, dan akupun lebih sering menghabiskan waktu bareng sama Dwi dan teman-temanku dikelas 9.
Dikelas 9, aku punya sebuah "geng" yang kami beri nama People Endemis. People Endemis beranggotakan, aku, dwi, daryanti, indah, titi, linda, latif, isna, dini, dan riani. Sebenarnya aku juga nggak bermaksud membuat geng namun, saat itu kelas 9 akan mengadakan pensi, dan kita dituntut untuk mengisi acara tersebut, alhasil kami sepakat untuk menampilkan tarian untuk mengisi pensi nanti. Dan untuk lebih gampang, maka kamipun memberi nama kelompok menari kami itu.
Dikelas 9, aku dan ulfi agak jauh, kami sudah tak sedekat dulu bahkan kami juga sudah jarang pulang sekolah bareng. Hampir setiap hari ulfi selalu ada acara dengan teman-temanya, dan akupun lebih sering pulang bareng sama indah dan latif yang memang rumahnya satu arah denganku. Namun meskipun sudah tak terlalu dekat, ulfi masih suka curhat tentang cowok yang lagi deket sama dia.

Hari-haripun berlalu, dan sebentar lagi aku dan teman-teman yang lain akan menghadapi UN. Oleh karena itu, kami disuruh mengisi formulir, dan didalam formulir itu terdapat tulisan NISN SD yang harus diisi, sementara aku nggak tau NISN SD ku berapa. Teman-temanku yang lain udah pada tau, dan sebagian besar dari mereka sudah mengumpulkan formulirnya. Disitu aku bingung, formulirnya harus dikumpulin hari ini tapi aku belum tau NISN SD ku berapa. Saat sedang bingung, tiba-tiba dwi datang menghapiriku...

"kamu kenapa da?"
"aku nggak tau no NISN SD ku berapa, gimana dong?" kataku cemas
"coba tanya ke temen-temen SD kamu, siapa tau mereka ada punya datanya"
"udah aku tanya, tapi mereka cuman punya no NISN mereka doang"
"yaudah kamu coba tanya ke SD kamu"
"yampun SD ku jauh darisini wi"
"yaudah ayok aku temenin kesana"
Sesaat aku terdiam mendengar tawaran dwi
"ayok cepet aku temenin, daripada kamu nggak ngumpulin"
Akhirnya aku beranjak pergi bersama dwi. Disitu aku benar-benar nggak nyangka kalau dwi mau nemenin aku. Padahal sebelum itu, aku sempet minta tolong temen-temen SD ku termasuk ulfi, namun nggak ada yang mau nemenin aku, tapi dwi? aku baru mengenal dia dikelas 8 tapi dia mau ngelakuin itu.
Dan berkat bantuan dwi, akupun bisa mengumpulkan formulir itu.

Beberapa bulan setelah itu, kamipun menghadapi Ujian Sekolah, Ujian Praktek, hingga Ujian Nasional.
Hasil kelulusan belum diketahui, namun pihak sekolah sudah mengadakan pensi. Kami menyambut gembira acara itu. Acarapun berlangsung meriah. Dan diakhir acara, hujan deras mengguyur daerahku, saat itu anak-anak lagi menyanyikan lagu dangdut, kamipun joget bareng-bareng dibawah guyuran air hujan. Kamipun larut dalam kegembiraan, entah kapan moment seperti itu bisa terulang kembali.
Kurang lebih seminggu setelah pensi, sekolah ,mengadakan acara perpisahan kelas 9. Acara perpisahan ini tak semeriah acara pensi. Karna disini guru-guru yang mengisi acara, sedangkan murid-muridnya yang menonton. Kami sangat menikmati moment-moment ini. Namun saat acara perpisahan, aku tak bisa terlalu enjoy soalnya saat itu aku lagi nggak enak badan. Saat anak-anak lain pada joget dilapangan, akupun hanya bisa menonton.

Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu datang juga yaitu pengumuman kelulusan.
Dan saat itu aku tak ikut pergi kesekolah, hanya kakakku yang datang untuk mengambil hasil pengumuman, sementara aku hanya diam dirumah.
Menjelang siang kakakku pulang dan aku dinyatakan lulus dengan nilai yang cukup memuaskan :D
Teman-temanku yang lain juga lulus, dan SMP Kartika dinyatakan lulus 100%.
Beberapa hari setelah kelulusan kami masih suka kesekolah untuk mengurus ijasah dan kawan-kawanya. Aku juga masih suka main sama ulfi walau lebih sering main sama dwi dibanding sama ulfi.

Anak-anak sedang sibuk mendaftar sekolah kejenjang yang lebih tinggi namun tidak dengan aku.
Karna keterbatasan biaya, aku tidak melanjutkan sekolah :(
Aku justru bekerja ke jakarta, dan meninggalkan teman, sahabat, dan juga kehidupanku yang dulu.
Awalnya semua berjalan baik. Aku masih sering contact sama dwi, ulfi, dan teman-teman yang lain. Sampai pada akhirnya semua berubah.
Tiba-tiba teman-temanku nggak ada kabar. Mereka menghilang. Nomor handphone nya pun nggak bisa dihubungi, darisitu aku mulai lost contact sama mereka, kecuali dwi dan ulfi. Aku masih suka contact sama mereka berdua walau nggak sesering dulu.
Saat itu ulfi cerita sama aku kalau dia lagi marahan sama sahabatnya yang sekarang. Seharian full dia smsan sama aku, aku senang bukan main saat itu, karna aku seperti menemukan kembali duniaku yang dulu. Namun semua nggak berlangsung lama, berapa hari setelah kejadian itu, ulfi udah nggak pernah contact aku lagi. Namun tiba-tiba dia sms aku, dia bilang dia sudah baikan sama sahabat barunya. Aku ikut senang mendengarnya, namun setelah itu ulfi justru malah udah nggak pernah sekalipun menghubungi aku. Saat itu aku selalu nanya sama dwi gimana kabar ulfi sekarang, karna memang dwi satu sekolah dengan ulfi. Dan dwi selalu bilang kalo ulfi sekarang sudah berubah, dia sudah tak pernah menyapa dwi, dan dia juga bilang kalo ulfi sekarang udah punya sahabat baru namanya cahya dan wati. Kata dwi, mereka sangat dengat, setiap hari selalu bersama. Disitu aku mulai berfikir, berarti yang waktu itu ulfi ceritain itu cahya dan wati, dan saat ulfi lagi ada masalah sama mereka, dia dateng ke aku tapi setelah masalahnya selesai, dia kembali ke mereka dan ninggalin aku. Disitu aku merasa hina banget. Akhirnya aku update status di facebook...

"melihat kamu yang sekarang semakin membuat aku merasa tidak pantas untuk menjadi sahabatmu lagi"

itu adalah status yang aku update di facebook. Beberapa saat setelah aku update status seperti itu, tiba-tiba ulfi sms aku, dia bilang
"statusmu buat aku id?"
aku bales "iya"
"kenapa? aku salah apa?"
"enggak, kamu nggak salah apa-apa kok, tapi emang sekarang aku bener-bener ngerasa nggak pantes untuk jadi sahabat kamu"
"apa karna temen-temen aku sekarang? perlu kamu tau, kamu tuh beda dari mereka id"
aku tak membalas pesan dia yang terakhir. Aku benar-benar kecewa dengan kelakuan dia.
Dan sejak saat itu, aku udah nggak pernah contact sama ulfi. Terakhir ulfi sms aku, dia bilang..

"kamu sahabatku, dan aku sayang kamu, sampai kapanpun aku akan sayang sama kamu"

Setelah kejadian itu aku mulai berfikir.
Dulu yang selalu ada buat aku itu dwi, yang selalu nemenin aku main basket saat jam kosong itu dwi, yang mau nemenin aku ke SD hanya untuk minta no NISN itu dwi, bukan ulfi.
Disitu aku benar-benar menyesali kebodohanku yang lebih sayang dan lebih mementingkan ulfi dibanding dwi.
Saat itu aku benar-benar merasa telah kehilangan sosok ulfi yang selama ini aku kenal. Ulfi yang selama ini aku anggap sebagai sahabat terbaiku ternyata bukan benar-benar sahabat. Saat aku jauh dari dia, dia bisa dengan mudah melupakan aku, dia sibuk dengan dunia dan teman-teman barunya, bahkan mungkin teman yang jauh lebih baik daripada aku.
Berbeda dengan dwi, meskipun kita terpisah dan dia juga sudah punya dunia dan teman-teman baru, namun dia tak pernah lupa denganku, dia masih mau nengok kearahku saat orang lain sibuk dengan dunianya. Dia masih menganggap aku sebagai sahabatnya saat orang lain telah menemukan sahabat baru. Aku benar-benar kagum akan sosok dwi.
Ternyata yang selama ini jadi sahabat terbaiku bukanlah ulfi melainkan dwi.

Dulu aku nggak percaya adanya mantan sahabat, tapi dengan pengalaman yang sudah aku alami, aku jadi tau kalau sebenarnya yang namanya "Mantan Sahabat" itu memang ada.

Jaga sahabat kalian, karna yang namanya sahabat itu susah banget untuk dicari.
Jangan sampai kalian merasakan kehilangan sahabat, karna rasanya itu sangat menyakitkan. Kalian akan benar-benar merasa ada sesuatu yang hilang dihidup kalian.
Bagiku sahabat adalah orang terpenting kedua setelah keluarga.
And i love my best friend more than my self!